Minggu, 22 Februari 2009

DERAP-DERAP TASBIH


Cinta adalah anugerah terindah dari Ilahi. Sebagai muslim atau muslimah, sewajibnya mensyukuri anugerah cinta dengan dengan cara-cara elegan, cantik dan beriman. Sayang Wardah, putri kiai pengasuh pesantren yang kesohor kealimannya, gagal mengelola gelegar cintanya pada Fatih, santri pengarang kreatif dan sekaligus anak asuh keluarga kiai tersebut. Bahkan dengan emosi membara, Wardah berjuang untuk membuktikan pada Fatih bawah tak sepatutnya Fatih menolak cintanya karena ia putri kiai besar, cantik dan berpengaruh.

“Ya, akan aku buktikan, Fat. Tanpa kamupun aku bisa mendapatkan yang lebih baik. Aku tunjukkan padamu bahwa kamu tidak ada apa-apanya. Abah dan Ummi, Wardah sudah dewasa, tidak usah repot mencarikan pasangan hidup untuk Wardah. Wardah tau mana yang terbaik untuk Wardah. Sayang, Wardah kebablasan. Ia terjerumbab kejurang kelam penuh dari maksiat. Seperti apakah rasanya hidup dalam ketakutan? Bagaimana perasaanmu jika kamu melakukan suatu kesalahan dan takut ketahuan? Bagaimana dicekam rasa putus asa yang tak kunjung padam? Hidup dalam ketidakpastian? Hidup tanpa masa depan? Adakah masa depan bagi seorang gadis yang tidak lagi mempunyai harga diri? Masih adakah tempat didunia ini bagi orang yang telah ternoda? Apakah masih pantas menyandang hidup jika sang pemberi hidup telah mengutuknya sebagai pembuat dosa besar tak terampuni dan bila ia memikirkan dirinya sebagai anak tokoh agama terpandang dan dihormati, Wardah sudah benar-benar tidak punya hati lagi, kosong. Hampa perih mendidih, kering kerontang, seperti pohon yang mati, meski tegak berdiri, tapi tidak punya kekuatan untuk menumbuhkan selembar daun sekalipun. Dan, siapakah yang mampu menyembunyikan aroma-aroma bau?

Peristiwa buruk yang dialami Wardah membuat Fatih merasa sangat bersalah pada kiai yang amat dicintai dan dihormatinya. “Abah, saya bersedia” suara Fatih memecah kehamparan. Suara itu muncul tiba-tiba. Fatih tidak sanggup untuk menahannya. Fatih hanya bisa merasakan Nyai Badriyah menatap Fatih. Kiai Sahal termangu mencerna ucapan anak angkatnya.

“Jika Abah ridho, sekarang juga saya akan menikahi Wardah.” Tapi, sang kiai menolak untuk menikahkan Wardah dengan Fatih karena janin dirahim Wardah bukanlah anak Fatih, kata sang Kiai. “Setiap orang berhak mencintai dan dicintai bukan karena keterpasakaan atau belas kasihan, tapi keikhlasan” Wardah, apapun yang terjadi, kamu tetap anakku, darah dagingku, amanat yang dititipkan Allah kepadaku, menikah dengan Fatih jelas tindakan salah. Keduanya tidak saling mencintai. Seumur hidup keduanya akan berada dalam kurungan rasa bersalah. Fatih akan menekan hatinya untuk menerima Wardah. Wardah akan menarik diri karena merasa dirinya berdosa”.

Didukung tema yang kritis yang menukik, setting yang kuat, alur kisah yang penuh kejutan, konflik yang mengharu biru dan dentuman karakter tokoh-tokohnya yang detil. Novel religius ini mampu menghadirkan banyak renungan bagi setiap pembacanya guna memaknai dan mensyukuri cinta dalam bingkai harmoni keimanan dan kearifan tradisinya. Suatu sikap hidup yang terkesan sederhana, bahkan dari saking sederhananya terlalu sering disepelekan, tapi justru mayoritas kita bisa menjadi pecundang karenanya.

“Tidak ada yang bisa mengubah seseorang jika orang itu tidak mau berubah. Dan tidak ada yang bisa menghentikan seseorang jika orang itu sudah berubah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar